Jumat, 07 Juni 2013

IDEALISME AKTIVIS DAKWAH


Ibu Ideologis Pejuang Khilafah



Sejarah mencatat dalam tinta emas, betapa kaum ibu berkualitas telah menjadi penopang tegaknya peradaban mulia.
Puluhan Muslimah berjalan kaki di Tunisia sembari memekikkan 'Allahu Akbar' dengan lantang. Para perempuan berjilbab ini menuntut ditegakkannya syariah dan Khilafah di negaranya yang baru saja terjadi revolusi. Gerakan rakyat yang sukses menumbangkan rezim sekuler-kapitalis, yang menginspirasi makin bergulirnya seruan Khilafah.

Ya, kegagalan sistem kapitalisme dalam menyejahterakan masyarakat dunia, baik Muslim maupun non Muslim semakin nyata. Termasuk kegagalan kapitalisme dalam mengangkat harkat dan martabat perempuan.

Tuntutan penerapan syariah dan khilafah pun bukan lagi sekadar wacana. Ibarat bola salju, makin besar dan lajunya makin kencang. Tak hanya di Tunisia, tuntutan Khilafah juga menggema di seluruh pelosok dunia. Hanya, media massa tidak menyiarkannya sehingga seolah terdengar samar-samar.
Nah, kaum perempuan turut punya andil dalam menyuarakan wajibnya penerapan syariah dan Khilafah. Apa perannya?

Peran Kodrati

Peran Muslimah dalam memperjuangkan syariah dan Khilafah terkait erat dengan kodratnya sebagai perempuan, yakni ibu pelahir generasi penerus. Kualitas generasi penerus ada di tangan para ibu ini. Sebab ibu adalah orang pertama yang dikenal anak. Ibu juga subyek utama sejak masa awal kehamilan, dilahirkan, menyusui, dan selama perkembangan dari tahap satu ke tahap lainnya dalam kehidupan anak.

Ibu merupakan pemeran penting bagi tumbuh kembangnya buah hati. Ibu adalah penentu arah perkembangan dan kemajuan anak-anaknya kelak.
Karena itu, sebagai pejuang syariah dan Khilafah, seorang Muslimah bukan sekadar menjadi ibu biologis bagi anaknya tapi wajib menjadi ibu ideologis. Yakni, ibu yang mampu melahirkan generasi berkualitas pembela Islam.

Ibu ideologis adalah ibu yang paham Islam secara kaffah, baik akidah maupun syariah. Dengan demikian, kelak ia mampu mendidik anak-anaknya dengan ideologi Islam kaffah pula. Ibu demikian mampu merumuskan desain pembinaan dan pendidikan yang terencana, terstruktur, dan terbaik bagi anak-anaknya, bahkan sejak merencanakan kehamilan, hamil hingga anaknya lahir.

Ibu ideologis ini akan terus belajar, mengembangkan diri dan memperluas wawasan agar mampu mewujudkan anak-anak yang mampu eksis dalam persaingan global. Ia mampu memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya dan melahirkan anak-anak yang membanggakan. Yakni, anak yang cerdas, dengan pemahaman agama yang mendalam, memiliki karakter kepemimpinan serta kepribadian berkualitas.

Ibu seperti ini mampu memahami bahwa tantangan yang akan dihadapi anak-anak jauh lebih besar dari apa yang mereka hadapi saat ini, sehingga senantiasa berupaya keras menyiapkan bekal berupa ilmu pengetahuan, kekuatan mental ataupun kesadaran politis bagi anak-anaknya. Dengan begitu akan lahir generasi penerus yang membentuk masyarakat terbaik.

Teladan

Banyak keteladanan yang menunjukkan keunggulan peran Muslimah yang tak tertandingi dalam mewujudkan masyarakat terbaik. Tidak sedikit tokoh-tokoh yang sukses karena peran seorang wanita dan ibu di belakangnya. Namanya tidak tercatat dalam sejarah, namun akan selalu menyertai kesuksesan dan kegemilangan anak hasil didikannya. Dan itu cukup menjadi bukti betapa pentingnya peran ibu. Dari rahim kaum ibulah, lahirnya bangsa bermartabat, mandiri dengan pemimpin berkualitas emas.

Sejarah mencatat dalam tinta emas, betapa kaum ibu berkualitas ini telah menjadi penopang tegaknya peradaban mulia. Ibu Imam Syafi'i misalnya, mewakili perjuangan ibu dari ulama sepanjang zaman. Suaminya meninggal sebelum Imam Syafi'i lahir. Ia membesarkan Syafi'i sendirian, memotivasinya untuk belajar. Usia 7 tahun Syafi'i sudah hafal Alquran.

Guru-guru ia datangkan untuk mengajar Syafi'i, meski untuk itu ia harus bekerja keras demi biaya belajar anaknya. Hasilnya, Imam Syafi'i menjadi mujtahid yang hasil ijtihadnya dijadikan referensi hingga kini.

Begitupula halnya dengan ibu Muhammad Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel. Sejak Al Fatih kecil, ibunya selalu menceritakan janji Nabi SAW dalam haditsnya tentang keniscayaan penaklukan Konstantinopel. Berbekal hadits itulah sang ibu menggambarkan betapa mulianya pasukan dan pemimpin pasukan yang memimpin penaklukan. Usahanya mendidik dan mengarahkan anaknya menjadi pemimpin pasukan yang dipuji Allah SWT membuahkan hasil yang hingga kini dikenang dalam sejarah emas umat Islam.

Lalu Asma' binti Abu Bakar, berhasil mendidik Abdullah bin Zubair sebagai ahli ibadah sekaligus individu yang berani menghadapi penguasa zalim. Ibunda Al-Khansa', mampu mendorong keempat anaknya untuk syahid. Ada juga Ummu Tsulaim yang mampu melayani suami dengan baik meskipun hendak mengabarkan kematian putranya.

Apakah teladan seperti itu bisa dilakukan perempuan masa kini? Sangat bisa. Seperti fenomena anak ajaib di Iran, Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba'i yang memperoleh titel doktor pada usia tujuh tahun dari universitas di Inggris.

Ia sudah hafal dan paham Alquran pada usia lima tahun, berkat didikan ayah ibunya. Keduanya hafidz dan hafidzah Alquran. Dalam percakapan sehari-hari, mereka biasa menggunakan ayat-ayat Alquran, sehingga anaknya pun mampu melakukan hal yang sama.

Subahanallah! Alangkah cerahnya masa depan dunia jika anak-anak terdidik oleh ibu-ibu mulia ini; ibu yang shalihah, cerdas dan sadar syariah. Melalui tangan ibu kelak akan lahir khalifah-khalifah yang senantiasa istiqamah menjalankan syariat Islam, menerapkan dan menyebarluaskannya ke seluruh penjuru dunia. Sebuah peran politis yang tak tergantikan oleh sosok manapun.

Optimalisasi

Memperjuangkan tegaknya Khilafah di tengah-tengah kehidupan sekuler, memang bukan perkara gampang. Perlu kesungguhan, keseriusan dan kesabaran untuk mewujudkannya. Karena itu, kewajiban kita sebagai Muslimah adalah sekuat tenaga mencurahkan segala kemampuan dalam rangka mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para shahabat, melaksanakan dakwah sebagaimana yang telah mereka lakukan.

Jika kelak sampai pada tujuan secara sempurna, memang itulah yang kita harapkan. Namun sekiranya tidak sampai pada tujuan, bukan berarti kita gagal. Sebab kita telah menjalankan kewajiban dan insya Allah kelak akan disempurnakan oleh generasi berikutnya.

Dalam hal ini Allah SWT telah menjamin orang-orang yang berjuang menegakkan dan membela agama Allah, maka Dia akan menolong mereka dan memberi kekuasaan di muka bumi.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.”  (TQS Muhammad: 7).
Hanya dengan usaha dan doa insya Allah cita-cita kaum muslimin untuk bersatu di bawah payung Daulah Khilafah Islamiyah akan terwujud. Amin.[] kholda najiah

IDEALISME AKTIVIS DAKWAH


Indahnya Romantika Ibu Ideologis

Harga Buku: Rp 42,000

Al Azhar Press

Jl. Ciremai Ujung No. 104 Bantarjati, Bogor. 
Kode Pos 1416502518360665 atau 0817 011 7771 

Islam telah menempatkan kedudukan seorang Ibu pada derajat yang sangat mulia, sampai Rasulullah Saw, bersabda bahwa surga berada di telapak kakinya, dan perintah untuk menghormatinya  sampai dengan tiga kali perintah baru kemudian ayah.
Sosok ibu yang terhormat dan mulia tentu saja menjadi dambaan setiap wanita. Sebagai dien yang sempurna, Islam telah mengatur peran Ibu sedemikian mulia dan tak tergantikan siapapun. Ia sebagai hamba Allah yang senantiasa mentaati-Nya, Ia  adalah seorang istri yang berbakti kepada suaminya karena keridho’an Robb-Nya bergantung kepada keridho’an suaminya. Ia adalah seorang Ibu dari putra-putri generasi pejuang Islam dan pemimpin umat masa depan. Ia adalah seorang pemimpin dan pendidik bagi kaumnya untuk menuju ketaatan kepada-Nya.
So, peran ibu adalah multifungsi, tak hanya sekedar aspek biologis; mengandung, melahirkan, menyusui, merawat dan mendidik supaya buah-hatinya tumbuh besar dan cerdas. Akan tetapi, ia juga mempunyai kewajiban untuk mendakwahkan Islam ke tengah masyarakat supaya terwarnai dengan Islam serta untuk tegaknya syariat Allah di muka bumi. Itulah aspek ideologis seorang Ibu.
Faktanya, dalam tataran praktis semuanya tidak selalu mudah untuk dijalankan, di satu sisi urusan domestik (istri, ibu dan pengatur rumah tangga) harus beres; di sisi yang lain, amanah berdakwah juga tak boleh diabaikan. Bagaimana mengatur waktunya? Supaya tidak ada kewajiban yang terbengkalai, tidak ada salah satu pihak yang terdzolimi. Bagaimana pula seandainya ibu menghadapi problematika sistemik atau ujian yang lain?, semisal kondisi punya banyak anak dengan jarak yang berdekatan sementara harus mengisi pengajian, suami di PHK sementara hidup dan aktivitas harus tetap jalan, atau menjadi ibu baru yang sebelumnya hanya berkutat urusan kuliah, begitu menikah dan mendapatkan amanah anak langsung merasa ‘shock’ dengan kerepotannya dan masih banyak lagi bermacam-macam warna kondisi yang dialami para Ibu ideologis.
Banyak yang merasa berat dan tersendat pada awalnya, namun juga mengasyikkan dan menjadi mahir pada akhirnya. Menjadi ibu ideologis dan tangguh adalah sebuah proses belajar dan terus belajar karena menjadi cerdas seolah menjadi tuntutan. Menjadi ibu ideologis tak sesulit yang dibayangkan, karena semua itu merupakan fitrah dari Sang Khaliq. Dan yakinlah bahwa dibalik janji Allah yang berupa surga, sesungguhnya menjalani peran sebagai ibu ideologis adalah pengalaman yang sangat indah untuk dikenang.
Ada satu hal yang bisa sedikit membantu para ibu muda untuk mahir menjadi seorang ibu, yaitu untuk tidak berhenti belajar. Ada banyak cara untuk belajar, selain membaca buku-buku tentang dunia ibu semisal; tentang kewajiban istri, parenting, resep masakan, dan lain-lain juga sharing dengan para ibu yang lebih senior. Buku ini dimaksudkan untuk saling sharing pengalaman dari para ibu dalam menjalani hari-hari mereka menjalankan amanah sebagai al umm wa robbatul bait.
Lewat kisah nyata beserta tips dan hikmah yang dibagi oleh para kontributor naskah, diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi para ibu dan calon ibu sehingga dapat terus meningkatkan semangat juang dalam berdakwah demi tegaknya syariat Islam. Sehingga tidak sampai terjadi pengendoran semangat dakwah karena kerepotan menjadi ibu baru atau mengurus rumah tangga dan anak-anak.

MUSLIMAH BICARA PERUBAHAN


CEWEK1453

INFO KONSULTASI KHUSUS MUSLIMAH : 0857 5251 4246

KEMUSLIMAHAN FUSI FKIP UNPAR

MANISNYA DUNIA CEWEK


Cerewetication Girl 

CEWEK1453


          Sebagian orang khususnya kaum adam,,.. pasti bakal bete binti kesel kalo ketemu sama cewek yang cerewet. Ups jangan salah ... cerewet itu gak melulu lho stigmanya harus negatif. Kalo orang bilang perempuan cerewet itu wajar, meski begitu tentu donk kita harus dudukin dulu cerewetnya dalam perkara apa.. 
Cewek cerewetication : 
           Berdasarkan penelitian cewek itu memang lebih banyak mengeluarkan kata-kata ketimbang cowok , walupun mungkin gak sepenuhnya benar. Tapi kalo mau bukti perhatikan dech .. pas lagi cerita pulkam, khusunya buat kamu-kamu yang punya saudara cowok or cewek. Ketika cewek ditanya sama ortunya gimana kuliahnya pasti bakal dijawab panjang x lebar x tinggi, tapi perhatikan kalo cowok yang ditanya dia hanya akan jawab seirit-iritnya. Contoh 

Pertanyaan kepada cewek : “ gimana kuliah mu ?” Cewek : “ baik. Diasana saya tinggal dengan si ini dan itu , teman saya ada yang begini dan begitu.. DE ES TE sampai dech jadi luas . 
Pertanyaan kepada cowok : “ gimana kuliah mu ?” Cowok : “ baik –baik saja” (jawaban standar) 
              Ya... seperti yang penulis sebutkan diatas mungkin tidak sepenuhnya semua itu benar, bahkan ada saja yang terjadi sebaliknya. Artinya cewek cerewet itu wajar-wajar saja, asalkan : 
1.Cerewetnya bukan nge-gosip , karena termasuk ghibah dan dilarang agama 
Dalilnya : Allah Ta’ala berfirman mengenai haramnya ghibah, 

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ 

“Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12) 

 2.Cerewetnya untuk kebaikan islam (ini yang paling siiip) = amar makruf nahi munkar 
       
        Allah telah menciptakan kaum perempuan dengan sejuta keunikan, include didalmnya cerewet. Mengintip sedikit dunia perempuan... terkadang ada cewek yang minder karena sering dibilang cerewet ..sampai-sampai menjaga banget gitu biar kata-kata yang keluar di hemat. Nah buat kamu-kamu yang mengalami hal tersebut berikut tips-tips yang Insya Allah bermanfaat buat kamu cerewetication girs :  
1. Ubah persepsi kamu : cerewet itu bukanlah sesuatu hal yang harus dihindari habis-habisan

 2.Semua hal di atas akan terbentuk dengan benar ketika kamu melandasinya dengan pemahaman islam, di dalam Nidzomul Islam dijelaskan bahwasnya mafhum itu akan membentuk yang namanya suluk (tingkah laku). Jadi pada dasarnya manusia baik itu cewek ataupun cowok akan bertindak sesuai dengan bagaimana isi kepalanya (baca: pemahaman ) 

3.Nah sobat ,.. untuk bisa memahami islam jalan satu-satunya ya.. harus mengkaji islam itu sendiri 

4.Setelah semuanya dijalankan dengan baik, insya ALLAH cerewetnya kamu akan menjadi cerewet yang terarah dan tidak akan menjadi ghibah. Semangat dech buat cerewetication girls... !!! 

 INFO KOSULTASI KHUSUS MUSLIMAH : 0857 5251 4246